1st December 2012 Cat: Zona Online with 3 Comments

garuda di dadaku, filosofi burung elangHari ini 1 Desember 2012,  TIMNAS Sepak Bola Indonesia dikalahkan 0 – 2 melawan Malaysia. Banyak sekali cemoohan kepada TIMNAS pada hari ini, bahkan ada cemoohan juga terhadap Bangsa Indonesia. Yang saya heran datangnya bukan dari negara lawan, tetapi malah dari anak – anak bangsa. Hal ini baru saya baca dari sekitar 200 list contact di HP blackberry saya….. aneh memang, kenapa bukannya do’a dan kata bersyukur yang keluar, bukan kalimat dukungan yang keluar… tetapi malah cemoohan seperti …. “Indonesia payah“, “TIMNAS payah“,  “Pelatihnya bego” dan masih banyak lagi. Tetapi saya sedikit heran pada saat TIMNAS menang melawan Singapura, yang awalnya cemoohan keluar dari mulut orang – orang gak bertanggung jawab dan gak berdarah merah kali… banyak do’a buruk yang mengatakan Indonesia pasti kalah… tetapi kenyataannya menang…. yang saya heran adalah mereka ikut bersorak kegirangan.

Saya jadi ingat dengan kalimat yang keluar dari mulut Sir Alex Ferguson “Jika anda tidak bisa menerima kekalahan kami sekarang, maka jangan ikut bersorak saat kami menang

Walaupun kalah, bagaimanapun juga engkau tetap GARUDA – ku, darahku masih merah bung….

Saya ingin bercerita sedikit mengenai filosofi burung elang… filosofi tersebut sangat bagus, memberikan semangat hidup dan semangat perjuangan. Garuda adalah burung elang jawa. oleh karena semangat garuda ini harus tertanam di jiwa kita bangsa Indonesia… jangan malah mencemooh bangsa sendiri.

Burung elang bisa hidup sampai umur 70 tahun. Dimasa hidupnya, burung elang merupakan raja di udara. Tidak ada hewan apapun yang bisa mengalahkan elang saat di udara. Itulah kenapa elang disebut sebagai raja di udara. Tetapi pada saat usia burung elang tersebut menginjak umur 40 tahun, maka penderitaan sangat diderita oleh nya. Bulu – bulunya mulai rontok, paruhnya mulai runcing melengkung, kuku – kuku tajam di jarinya mulai panjang dan melengkung.

Pada saat penderitaan tersebut, elang diberikan 2 pilihan. Merana menangisi nasibnya dan tidak makan sampai mati atau terbang tinggi ke atas gunung untuk melakukan perjuangan hidup. Tentu saja burung elang akan berusaha sampai puncak gunung dan melakukan ritual bertahan hidup. Apakah yang dilakukan burung elang di atas puncak gunung?

Burung elang tersebut mematuk – matukkan paruhnya ke batu gunung yang keras sampai paruh tuanya patah. Mencakar – cakarkan kuku nya ke tanah tandus supaya kuku panjangnya patah dan merontokkan bulu nya yang sudah tua. Tentu saja kondisi tersebut merupakan kondisi yang sangat menyakitkan, tetapi itulah cara burung elang bertahan hidup. Perjuangan memang menyakitkan.

Alhasil, kuku nya tumbuh lagi, paruhnya tumbuh lagi dan bulunya tumbuh lagi menjadi kuku & paruh muda yang kuat dan bulu – bulu indah yang siap bersahabat dengan angkasa.

Setelah kondisi tersebut terjadi, maka burung elang tersebut siap menaklukkan angkasa dan menjadi raja udara lagi.

Apa yang bisa di petik dari filosofi burung elang tersebut? Kita sebagai bangsa Indonesia dengan lambang garuda harus terus mempunyai semangat untuk berjuang hidup, harus terus berjuang untuk menjadi rajanya di segala hal… termasuk raja sepak bola.

GARUDA tetap didadaku…… apakah masih ada GARUDA di dadamu?

Tangkapan Mesin Pencari:

garuda merah,garuda didadaku,filosofi burung elang,gambar garuda didadaku,gambar garuda merah,lambang garuda merah,dp garuda merah,hidup garuda ku,foto lambang timnas garuda,elang tua yg merana

Related Post :
Comments for Engkau Tetap GARUDA-ku
  1. Pulau Tidung 13th February 2013 at 1:29 pm

    kapan ya kita bisa menyaksikan Timnas kita menjuarai salah satu cup di kawasan Asia. Buat gan zona, thanks buat postingannya.

  2. admin 2nd August 2013 at 2:29 pm

    kalah mulu om…. managementnya rebutan tulang sih

Trackbacks

  1. Kualifikasi Piala AFC Indonesia U19 vs Laos U19 | Zona Bisnis
Leave a Comment for Engkau Tetap GARUDA-ku